Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Showing posts with label Event and News. Show all posts
Showing posts with label Event and News. Show all posts

Saturday, March 6, 2010

LAPORAN FOTO DISKUSI 'VISI TATA RUANG KOTA MAGELANG'.


Diskusi yang mengangkat tema 'Visi Tata Ruang Kota Magelang', pada 13 Februari 2010, telah berlangsung relatif sukses. Diskusi yang berlangsung di Museum Diponegoro, Kota Magelang, itu dihadiri sekitar 125 orang. 65 orang mencatatkan dirinya di buku tamu, sementara sisanya tidak tercatat. Mungkin belum terbiasa dengan hal-hal protokoler itu. Yang pasti mereka mendukung dan meramaikan diskusi yang pertama kalinya diadakan borobudurlinks ini.
Berikut adalah foto-foto dokumentasi yang diabadikan oleh Yusuf Kusuma, seorang fotografer, yang aktif mengabadikan situs dan bangunan lama di kota Magelang. Trims, mas Yusuf, kami tunggu karya anda lainnya di borobudurlinks (borobudurlinks@2010).



Thursday, March 4, 2010

Mengupas Karya Goethe di Pesantren API(2-habis)


Melihat Islam dari Puncak Keberpasrahan pada Tuhan
oleh, Sholahuddin al-Ahmed

Jika diamati karya-karyanya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) mengapreasi dan penghargaan karya sastra Arab. Setidaknya ini membuktikan kedekatannya secara pribadi dengan warna dan nilai sastra mahatinggi. Karyanya itu digemakan lagi di Kompleks Pondok Pesantren API Tegalrejo, baru-baru ini.

Dalam beberapa puisi, Goethe terkesan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada bangsa Arab karena cukup mengilhami dan memberi sumbangsih warna sastra tersendiri dalam karya-karyanya.

Hal itu juga tak lepas dari perkenalan Goethe dengan sastra Arab, secara intensif bermula semenjak ia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Leipzig, tahun 1761 atau pertengahan abad XVIII.

Saat Barat menyemarakkan studi-studi antropologis dan ekspedisi-ekspedisi geografis ke daratan Arab. Dalam buku keenam dari Puisi dan Cinta, Goethe mencatat perhatian besarnya pada hasil-hasil ekspedisi itu. Terutama pada Carsten Neibhur yang pernah mengunjungi Mesir, Yaman dan daerah-daerah Arab lainnya (1767).

Dari perjalanan ekspedisi dan riwayat pendidikan Goethe yang serius mengkaji Islam, maka tak diragukan lagi bahwa dia begitu dekat dengan bangsa Timur dan keilmuan Islam. Hingga akhirnya dalam karyanya, dia membuat syair.

Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati

Budayawan Ahmad Tohari yang malam itu turut hadir menganalisa, jika Islam dimaknai berserah diri kepada Tuhan, kita semua hidup dan mati dalam Islam menurutnya karya ini memiliki nilai sufi yang tinggi. Setidaknya Goethe telah mencapai puncak ekstase sufistik membaca Islam dan seluruh ajarannya.

Salah satu terjemahan kutipan puisi Goethe. Kitab Kedai Minuman, di halaman 109 buku Seri Keempat Puisi Jerman mengusik Kang Tohari. Apakah Al Quran abadi? Itu tak kupertanyakan! Apakah Al Quran ciptaan? Itu tak kutahu! Bahwa ia kitab segala kitab, Sebagai muslim wajib kupercaya. Tapi, bahwa anggur sungguh abadi, Tiada lah ku sangsi; Bahwa ia dicipta sebelum malaikat, Mungkin juga bukan cuma puisi. Sang peminum, bagaimanapun juga, Memandang wajahNya lebih segar belia.

Menurut Kang Tohari, anggur suatu keniscayaan yang bisa diukur oleh siapapun, tetapi Alquran tidak bisa dipahami secara saklek tapi butuh penafsiran.

‘’Adik-adik santriawan dan santriwati silakan membaca dengan seksama tetapi jangan lupa mencari pendamping yang bisa menerangkan tentang apa itu abadi,’’kata Kang Tohari seakan mengajak mengkaji lebih dalam syair Goethe dengan pisau analisa keilmuan Islam yang dimiliki santri.

KH Muhammad Yusuf Chudlori yang akrab disapa Gus Yusuf salah satu Pengasuh Pondok Pesantrek API Tegalrejo mengatakan, kebenaran mutlak berujung surga. Tetapi surga bukan hanya milik salah satu pihak.

Goethe yang sastrawan Barat, katanya, telah mendalami sufistik Islam dan meninggalkan ruang material sehingga memberikan penghargaan yang tepat kepada bangsa Timur.

Menurutnya, Berthold yang mengusung puisi-puisi Goethe malam itu sebagai pengalaman baru bagi para santri Tegalrejo. Suasana malam Maulud Nabi itu seakan membawa santri ke arah pemikiran dan pendalaman tentang Islam dari pandangan sastrawan Jerman.

Wednesday, March 3, 2010

Mengupas Karya Goethe di Pesantren API(1)


Mencitrakan Islam untuk Semua Umat

oleh Sholahuddin al-Ahmed

Filsuf dan penyair Jerman Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) boleh dibilang pemikirannya mengispirasi gerakan dialog Barat (Nasrani) dan Timur (Islam). Jembatan antara Barat dan Timur dibangun di atas konstruksi pemikirannya yang menghargai al-Quran sebagai maha kitab dan mengagumi agama Islam yang jauh dari gerakan fundamental.

Benang merah pemikiran itu kembali dipertegas dalam sebuah acara ‘’Dialog Karya-Karya Goethe: Perintis Dialog Islam-Barat’’ di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Penyair asal Jerman Berthold Damshauser datang ke sana membawakan syair-syairnya Goethe. Turut mendampingi di panggung adalah penyair kaliber dunia asal Magelang Dorothea Rosa Herliany dan juga budayawan Sosiawan Leak.

Diantara penonton yang hadir adalah para santriawan dan santriwati API. Santri yang saban hari mengkaji kitab bermazhab Safi’I, Hanafi, Maliki dan Hambali itu tiba-tiba jauh meroket mengkaji pemikiran filsuf Jerman.

Dialog ini memang bukan membahas masalah (bahsul masail)fiqiyah atau tauhid bersumber keempat mazhab di atas. Bukan pula mengkaji mazhab Frankfurt (sebuah nama yang diberikan kepada kelompok filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt Jerman--konsentrasi kajian pemikiran neo-Marxisme dan kritik terhadap budaya).

Meski demikian para santri menikmati syair-syair Goethe yang cenderung sufistik. Melalui syair itu setidaknya mereka menjadi lebih tahu, pandangan orang Barat tentang agama yang mereka anut.

Dialog sastra yang didukung Goethe Institut Jerman, seperti menyederhanakan persoalan filsafat yang mengangkasa menjadi lebih ringan diterima para santri dan para peserta lainnya. Sepertinya mereka sepakat tak ada dikotomi antara Islam dan Barat. Karena Islam untuk semua umat.

Di panggung Berthold membacakan sejumlah puisi karya Goethe berbahasa Jerman sedangkan Rosa dan Leak membacakan puisi Goethe dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Properti puluhan lentera berderet, tatanan indah beberapa lembar daun kelapa (blarak) menghidupkan suasana gelar sastra malam itu. Puisi berjudul ‘’Raja Mambang’ dibaca pertama kali oleh Leak disusul pembacaan puisi itu berbahasa Jerman ‘’Erlkonig’’ oleh Berthold.

Rosa pun menyusul dengan suguhan berturut-turut tiga puisi pendek Goethe bernada cinta, ‘’Dari Gunung Ke Laut’’ (Vom Berge In die See), ‘’Dari Gunung’’ (Vom Berge), dan ‘’Dendang Malam Pengembara’’ (Wanderers Nachtlied).

‘’Ini puisi cinta Goethe, ketika dia jatuh cinta kepada gadis bernama Lili dan ketika dia putus cinta dengan Lili,’’kata Rosa memecah kehening suasana.

Kemudian membacakan lagi puisi berjudul ‘’Mukadimah Diwan’’ (Zum Diwan), nukilan ‘’Kitab Parabel’’ (Buch Der Parabeln), ‘’Sabda Sang Nabi’’ (Der Prophet Spricht), nukilan ‘’Kitab Kedai Minuman’’ (Das Schenkenbuch), ‘’Rindu Dendam’’ (Selige Sehnsucht), dan ‘’Prarasa’’ (Vorschmack).

Sunday, February 21, 2010

Melihat Magelang Masa Lalu (3-habis)



Benar!!! Magelang Pusat Seni Rupa Terbesar di Dunia

Pembicara pada diskusi ‘’Visi Tata Ruang Kota Magelang’’ yang paling nyeleneh mungkin Oei Hong Djien dokter yang juga kolektor lukisan kondang. Orang asli Magelang yang biasa disapa OHD itu hidup di tiga generasi, masa penjajahan, revolusi dan era modern sekarang.

Dia mengaku bahagia karena bisa melihat Magelang zaman penjajahan, saat itu menjadi kota persinggahan dan pusat militer. Waktu kecil dia menceritakan pernah tinggal di Jl Tidar, banyak ruang publik yang digunakan bermaian bagik itu di kaki gunung tidar dan di bayeman.

Ruang hijau dan ruang publik banyak yang hilang, bahkan dibanding Kota Kudus menurutnya ketinggalan jauh. Padahal kota kretek itu dahulunya tandus dan gersang.

Dia sepakat ketika sekarang mulai menggeliatkan lagi Magelang sebagai kota pelajar dan kota transit juga Kota lukisan. Tapi ironisnya kondisi sekarang justru menjadi kota penuh ruko, baliho dan pedagang kaki lima. Menurutnya, kepentingan ekonomi tidak sinkron dengan budaya.

Padahal mengembangkan kota ruko pusat perekonomian kemudian ditinggalkan karena kurang menghasilkan. Bagaimana kalau kota hijau dan sejuk dikembangkan, maka akan lebih bergengsi.

Dia mencontohkan, di Austria kota kecil yang penuh dengan ruang hijau dan ruang publik yang indah. Magelang punya hutan dan gunung di dalam kota, potensi itu perlu didukung ruang hijau lain dan taman.

Geliat seni budaya juga mendukung cita-cita itu. Misalnya saja sebulan sebelum pameran atau pergelaran, seniman berlatih performance berbulan-bulan itu sudah menjadi bagian daya tarik wisata. Apakah masyarakatnya sudah siap befikir ke arah situ.

Menurutnya, Deddy Langgeng memiliki pusat seni rupa terlengkap di Indonesia bahkan dunia. Asal dikelola dengan baik dan didukung seluruh elemen masyarakat bisa mengembangkan ke arah pariwisata.

Dia juga mengusulkan bisa saja ada sebuah festival tahunan, menutup daerah pecinan. Berbagai geliat seni budaya selama sepekan di gelar di sana. Kawasan pedestrian yang bisa menarik wisatawan domestik dan luar negeri.’’Saya masih yakin jika dihijaukan dan ditata menjadi kota wisata Magelang akan bisa lebih baik,’’tambahnya.

Apa yang dibicarakan dalam diskusi mungkin saja masih dianggap sebagai sebuah wacana oleh pemerintah atau sebagian masyarakat. Hampir semua peserta yang hadir (para seniman, aktivis, akademisi, budayawan dan mahasiswa, wakil rakyat, pejabat), sepakat bahwa ke depan Magelang haruslah menjadi kota yang menjual keelokan panorama dan potensi geliat seni budayanya. Bukan menjadi hutan advertaising, dan ruko-ruko yang tak produkstif.

Apakah pernah membayangkan di Magelang memiliki aset seni rupa senilai Rp 2 triliun lebih tersimpan di rumah orang-orang kaya Magelang. Setiap tahunnya ada transaksi Rp 100-200 milyar rupiah. Ada banyak geleri seni rupa di kota getuk ini.

Salah satunya, di rumah OHD tersimpan 2000 lebih karya senirupa, 1.500 lebih lukisan, dan 500 lebih patung dan karya tiga dimensi. Karya sebanyak itu tersimpan rapi di rumahnya. Sebagian di plafon yang telah disulap menjadi tempat penyimpanan lukisan. Sebagian lagi dipajang di dua museum yang terletak di belakang rumahnya, yakni Museum Modern Art dan Museum Contemporary Art.(Sholahuddin al-Ahmed)

Melihat Magelang Masa Lalu (2)



Magelang yang Pernah Ditinggalkan Penduduknya
Magelang seperti cawan yang diapit dua sungai besar Elo dan Progo juga dikelilingi tujuh gunung menjadi daya tarik pergulatan peradaban dari zaman ke zaman. Dalam perjalanannya juga seringkali mengalami pasang surut.

Setelah masa kejayaan Hindu-Buddha, Magelang pernah ditinggalkan penduduknya karena letusan Gunung Merapi 1006. Wahyu Utami ST MT Peneliti Sejarah Arsitektur Kota Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menggunakan teori Van Bammelen dalam menganalisasa hilangnya peradaban di Magelang atau Kedu dan sekitarnya.

Dalam teori itu, menurutnya, Letusan Gunung Merapi disertai gempa berkekuatan dahsyat, hujan material vulkanik yang kesemuanya itu membentuk Gunung Gendol dan Pegunungan Menoreh.

Banyaknya korban meninggal menyebabkan wabah penyakit, sebagian orang yang selamat pindah keluar Magelang. Dia juga menggunakan asumsi lain, pindahnya penduduk Magelang, juga diakibatkan tanam paksa dan pembangunan candi pada Mataram kuno.

Pada saat itu ada perdebatan pembangunan Prambanan dan Borobudur, sebagian masyarakatnya terlibat dalam gotong-royong pembangunan dua candi itu. Karena pekerjaan yang tak pernah berhenti itu akhirnya Magelang ditinggalkan penduduknya.

Ada cerita legenda yang cukup menarik untuk membahas munculnya kembali Magelang dalam panggung sejarah, yang diawali dengan adanya usaha Panembahan Senapati untuk menguasai daerah Magelang yang diceritakan dalam Babad Alas Kedu.

Setelah mengalami kemunduran dan masa kejayaan, Magelang khususnya Bukit Tidar telah dikuasai oleh Raja Jin Sepanjang. Panembahan Senapati kemudian menyuruh beberapa tokoh masyarakat untuk membantu mengusir Raja Jin Sepanjang.

Muncullah kemudian Kyai Keramat yang membantu namun akhirnya tewas di daerah sebelah utara (keramat atau di Desa Kramat, sekarang). Kemudian Raja Jin Sepanjang lari ke arah Selatan dan dikejar oleh Nyai Bogem (tewas akhirnya muncul daerah Bogeman).

Patih Mertoyudo (tewas akhirnya muncul daerah Mertoyodan-salah satu Kecamatan di Kabupaten Magelang) dan Raden Krincing (tewas akhirnya muncul daerah Krincing, daerah di Kecamatan Secang Kabupaten Magelang). Menurut Wahyu, selain itu juga muncul nama-nama daerah sebagai basis pertempuran antara lain Bodongan, Plikon dan Geger.

Pembenahan dan pembangunan kota Magelang, lanjut dia, secara umum mengubah wajah Kota Magelang. Dahulu Belanda merias wajah kota dengan bangunan elok dan panorama gunung dan sawah yang indah menghampar.

Setidaknya, pembangunan itu selaras dengan Magelang yang memiliki potensi panorama alam yang kuat. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, pembangunan tak lagi mengindahkan masterplan peninggalan Belanda yang menitik beratkan pada perpaduan alam dan pembangunan.

‘’Pembangunan yang tak mengindahkan ruang hijau dan menggusur bangunan-bangunan kuno itu semakin gencar mulai tahun 2000. Sebelumnya saya meneliti di sini kondisinya masih bagus, meski sudah ada bangunan-banguan modern di mana-mana,’’katanya.

Dikatakannya, jika Magelang akan mengangkat keindahannya sebagai pontensi wisata maka pembangunan kotanya harus tetap konsisten pada pembangunan yang berbasis lingkungan. Kota Magelang bisa diangkat mendampingi kawasan wisata Borobudur, dengan potensi alam ruang hijau dan gunung tidarnya.

Sependapat dengan hal itu, pembicara lain dalam diskusi ruang publik Edy Soetrisno, Pengembang yang juga Anggota DPRD Kota Magelang, mengatakan jika Magelang ingin maju sudah selayaknya menghargai sejarah. Perjalanan dari abad ke abad Magelang kaya akan nilai sejarah yang ditinggalkan pendahulu.

‘’Ke depan harus bisa mengantisipasi pembangunan yang tak mengindahkan nilai-nilai sejarah itu. Harus berani melakukan gerakan moral, menyelamatkan warisan budaya itu,’’tambah Eddy.(Sholahuddin al-Ahmed)

Melihat Magelang Masa Lalu (1)



Keunikan Magelang dengan Tujuh Gunungnya

Melihat perjalanan massa lalu Magelang sungguh menarik, perjalanan waktu dari Hindu-Buddha kemudian pendudukan Inggris VOC dan Belanda hingga sekarang. Semua itu dikupas dalam diskusi borobudurlinks.com ‘’Visi Tata Ruang Kota Magelang’’, berikut laporan Sholahuddin al-Ahmed.

Ada yang menarik dari pemaparan Wahyu Utami ST MT (Peneliti Sejarah Arsitektur Kota Universitas Gajah Mada), salah satunya mengungkapkan adanya bukti sejarah bahwa Magelang atau Kedu sudah memulai peradabannya pada 78 M.

Berdasarkan sumber cerita rakyat diceritakan tentang datangnya serombongan orang Rum yang dipimpin Raja Pendeta Ngusmanaji mencoba masuk ke wilayah Jawa khususnya Kedu akan tetapi gagal karena terserang penyakit.

Rombongan kedua yang disengaja tanpa orang Rum yaitu dengan mendatangkan orang-orang Keling, Seiloh dan Siam, mencoba membuka lahan kembali yang dimulai ekspedisinya tahun 83 M dan pada tahun ke lima berhasil menguasai keadaan pada tahun 88 M. Kemudian mereka menancapkan tongkat tumbal di 5 lokasi di Jawa, salah satunya di Bukit Tidar oleh Syeh Subakir.

Kemudian dia meloncat menceritakan Magelang pada masa Mataram Kuno, bermula dari cerita Raja Sima yang sangat terkenal dari Kalingga melarikan diri karena gempuran dari kerajaan yang ada di Jawa Barat dan akhirnya mendapat tempat di Lereng Gunung Merapi (Prasasti Canggal), maka dimulailah babak baru berkembangnya kawasan Magelang sekarang ini.

Mataram Kuno di Magelang dimulai Raja Sanjaya yang membuat prasasti Canggal tahun 732 M, di Gunung Wukir, Lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang kemudian menjadi Raja Mataram Kuno yang pertama.

Keberadaan prasasti itu, setidaknya menjelaskan Magelang dengan latar belakang Bukit Tidar sudah ada jauh sebelum berdirinya kerajaan baru yaitu Kerajaan Medang. Hal itu juga dikuatkan Prasasti Tuk Mas (Kabupaten Magelang) 500 M yang bercerita tentang adanya sumber air yang bersih yang disamakan dengan Sungai Gangga.

Zaman Mataram
Pada masa Kerajaan Mataram Hindhu, Magelang diperkirakan mulai dikenal lebih luas pada masa pemerintahan Rake Watukara Dyah Balitung (898-908 M) dengan memerdekakan beberapa daerah yang ada di Magelang mulai tahun 905 M yang tertuang dalam prasati Poh (905M).

Pada masa pemerintahan Raja Balitung istana Mataram Hindhu berada di daerah Medang I Poh Pitu (Kedu). Daerah yang dijadikan daerah perdikan adalah daerah Mantyasih dan Poh sebagai daerah untuk melakukan persembahan dengan dibangun Sima.

Peneliti yang juga kelahiran Magelang, itu mengurai tentang sesuatu dibalik Prasasti Mantyasih. Antara lain mengungkapkan fakta bahwa Kota Magelang mengawali sejarah sebagai desa perdikan ‘’Mantyasih’’ yang berarti beriman dalam cinta kasih dan di tempat itu terdapat lumpang batu yang diyakini masyarakat sebagai tempat upacara penetapan Sima atau perdikan.

Selain Prasasti Mantyasih juga sebelumnya telah ada Prasasti Poh yang terletak di Kampung Dumpoh (sekarang). Menurutnya, Magelang menjadi daya tarik karena letak geografisnya. Dikelilingi tujuh gunung antara lain, Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo dan Sumbing. Di aliri dua sungai besar, yakni Elo dan Progo.

Di tanah cekungan ini menurutnya, sejak dahulu merupakan hamparan tanah dipenuhi sawah dan hutan. Pada zaman dahulu itu menjadi magnet orang-orang untuk datang dan bercocok tanam.

Pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC Magelang dijadikan markasnya. Pada zaman penjajahan Belanda, juga dijadikan pusat pemerintahan dan militer.

‘’Pada masa penjajahan orang-orang Belanda suka dengan Magelang membuat vila karena panorama indah pegunungan dan aliran sungai yang menjadi sumber penghidupan,’’katanya.

Dikatakannya, daya tarik Magelang dengan tujuh gunung dan dua sungai besar itu, kini justru tenggelam. Seiring dengan pembangunan gedung bertingkat dan alih fungsi persawahan dan ruang hijauh menjadi bangunan atau perumahan.

Thursday, February 11, 2010

RANGKAIAN ACARA IMLEK DI KLENTHENG LIONG HOK BIO.



Tak ketinggalan, warga pemeluk agama Khong Hu Chu di Magelang juga merayakan tahun baru Imlek 2651. Rangkaian acara yang berpusat di Klentheng LIONG HOK BIO, Jalan Alun-alun Selatan No.1, adalah sebagai berikut:

01. TOA PEKONG NAIK (PUNGGAHAN/SANG AN/SANG SIN).
Hari/tgl : Minggu, 7 Februari 2010 (Imlek 2560 Cap Jie Gwee 24).
Puja bakti :Dari pagi hari sampai malam/selesai.
Sembahyang bersama : Jam 20.000 WIB (dilanjutkan puja bakti).
Narasumber : Ardian Cangianto (Bogor).

02. PENCUCIAN KIEM SIN/RUPANG.
Hari/tgl : Senin, 8 Februari 2010 (Imlek 2560 Cap Jie Gwee 25).
Sembahyang Bersama : Jam 07.30 WIB.

03. SEMBAHYANG TUTUP TAHUN (TI SIK).
Hari/tgl : Sabtu, 13 Februari 2010 (Imlek 2560 Cap Jie Gwee 30).
Sembahyang Bersama : Jam 22.00 WIB.

04. SEMBAHYANG AWAL TAHUN/TAHUN BARU IMLEK 2561.
Hari/Tgl : Minggu, 14 Februari 2010 (Imlek 2561 Chia Gwee 01).
Sembahyang Bersama : Jam 00.00 WIB (Dini hari).
Dilanjutkan : * Pai Cia Bersama
• Jam 01.00 WIB Doa menyambut Dewa Rejeki (Ciek Jay Sen)
• Pembagian berkah Sincia.


05. TOA PEKONG TURUN (PUNDUNAN/CI ANG/CI SIN).
Hari/Tgl : Rabu, 17 Februari 2010 (Imlek 2561 Chia Gwee 04).
Sembahyang Bersama : Jam 20.00 WIB (Dilanjutkan penjabaran makna pujabakti).

06. SEMBAHYANG BESAR KEPADA TUHAN YME/KING DHI KONG.
Hari/Tgl : Minggu, 21 Februari 2010(Imlek 2561 Chia Gwee 08).
Sembahyang Bersama : * Jam 21.00 WIB Gai Thian (Pembukaan)
• Jam 00.00 WIB Pai Thian Kong (Sembahyang Besar Ke
Hadirat Tuhan Yang Maha Esa).
• Jam 01.30 WIB Sang Sien (Penutup).


07. KENAIKAN KWAN SING TEE KUN.
Hari/tgl : Jumat, 26 Februari 2010 (Imlek 2561 Chia Gwee 13).
Sembahyang Bersama : Jam 20.00 WIB (Dilanjutkan penjabaran makna pujabakti).

08. CAP GO MEH.
Hari/tgl : Minggu, 28 Februari 2010 (Imlek 2561 Chia Gwee 15).
Kirab Liong Samsi : Jam 11.00 WIB.
Sembahyang Pembukaan : Jam 17.00 WIB.
Ramah tamah & Hiburan : Jam 18.00 WIB.
Sembahyang Penutupan : Jam 23.00 WIB.

Tuesday, February 9, 2010

DISKUSI ‘VISI TATA RUANG KOTA MAGELANG’.




Borobudurlinks, 9 Februari 2010. Satu tahapan baru dalam upaya mendinamisasikan kehidupan kebudayaan di kota Magelang akan dicoba dilakukan oleh www.borobudurlinks.com, dalam bentuk diskusi bulanan. Ide untuk mengadakan kegiatan diskusi ini berangkat dari keprihatinan melihat perkembangan wacana budaya, di kota Magelang, yang relative kurang menggembirakan. Tidak seimbang dengan gerak senibudaya, yang dipermukaan terasa gegap gempita.
Kurangnya pemahaman tentang pentingnya wacana juga terasa di sector kehidupan yang lain. Perkembangan masyarakat dan pembangunan kota bergerak tanpa arah atau visi yang jelas. Output yang dihasilkan pun relative tak mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat, sebagai tujuan akhir dinamika pembangunan.
Target jangka pendek diadakannya diskusi ini, selama 5 bulan ke depan, adalah mencoba menawarkan visi bagi kepemimpinan kota Magelang, khususnya menjelang pilkada yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Setidaknya ada 4-5 topik menyangkut isu-isu actual yang paling mendesak untuk dikaji, antara lain: Visi Tata Ruang, Visi Ekonomi, Visi Budaya, dan Visi Anti Korupsi.
Topik yang pertama, Visi Tata Ruang Kota Magelang, akan kami diskusikan pada hari Sabtu, tanggal 13 Februari 2010, bertempat di Museum Diponegoro (eks Karesidenan Kedu), Jalan Diponegoro No. 1 Kota Magelang. Khusus mengenai tempat, kami beruntung mendapat pinjaman tempat yang tergolong situs sejarah dan kebudayaan ini. Untuk itu kami berterimakasih kepada Kantor Disporabudpar Kota Magelang dan Kantor Bakorwil II Jateng, yang telah meminjami tempat itu.
Untuk diskusi kali ini, pembicara atau narasumber yang kami tampilkan adalah:
• WAHYU UTAMI, ST, MT. (Peneliti Sejarah Arsitektur Kota dari UGM)
• OEI HONG DJIEN, dokter (Kolektor Seni/Pemerhati Budaya Kota)
• EDDY SUTRISNO (Anggota DPRD Kota Magelang/Pengusaha Pengembang).

MASALAH.
Disadari atau tidak, kini, Magelang bukan lagi kota yang nyaman sebagai kota tetirah. Udaranya gerah tidak lagi sejuk seperti dulu. Padahal dulu, Ingris dan kemudian Belanda, membangun kota Magelang sebagai pemukiman dengan pertimbangan udaranya sejuk dan kondisi alam (topografi) yang indah. Selain tanahnya yang subur, dan pertimbangan dari segi militer tentunya.
Penyebab perubahan iklim kota Magelang bisa ditelisik dari berbagai faktor. Pemanasan global, misalnya, bisa dituding menjadi salah satu penyebab perubahan itu. Namun yang juga tak boleh diabaikan adalah factor pembangunan kota Magelang sendiri, yang cenderung mengabaikan tata ruang yang sehat.
Dulu, pemerintahan colonial Inggris dan Belanda telah meletakkan dasar-dasar tata ruang kota yang sehat dan terencana sebagai kota modern. Alun-alun sebagai pusat kota, sebelah barat kota sebagai pemukiman, sebelah timur kota sebagai sarana militer, dan di tengah-tengah dari utara ke selatan sebagai zona ekonomi meliputi perkantoran, pertokoan, dan perdagangan (lihat: “Sejarah dan Pola Perkembangan Kota Magelang” di www.borobudurlinks.com ).
Namun, sejak kemerdekaan hingga kini, perkembangan kota Magelang cenderung tak terencana dan tak terkendali. Kota yang sempit itu, karena secara alamiah dibatasi sungai Elo dan Progo, kini dijejali berbagai bangunan, khususnya bangunan ekonomi. Pemukiman penduduk di dalam kota semakin padat, hampir tanpa menyisakan ruang terbuka hijau (RTH) sama sekali.
Kampung-kampung seperti Magersari, Karang Lor/Kidul/Gading, Kemirikerep/Rejo, Tidar, Jenangan, Juritan, Panjang, hingga Wates dan Menowo, kini dijejali rumah tanpa halaman. Semua tanah ditutup beton, tanpa memikirkan bahwa tanah-tanah itu juga butuh ‘bernafas’. Di kampung-kampung itu kini sulit ditemukan tegakan pohon, atau gerumbul semak, apalagi taman sarana bermain dengan perdu bunga warna-warni.
Dulu, pemerintah Belanda membangun berbagai RTH atau public area yang terkonsep dengan baik, antara lain Alun-alun, Stadion Abu bakrin, Taman Gladiol, Taman Badaan, Lapangan RIN, dll. Kini, satu persatu RTH itu digusur atau berubah fungsi. Taman Gladiol berubah jadi perumahan mewah. Sementara Stadion Abubakrin (gosipnya) sebentar lagi juga berubah jadi pusat perbelanjaan.
Beruntung Magelang memiliki lapangan atau sarana latihan militer yang hingga kini masih terawat dan berfungsi dengan baik sebagai RTH, seperti lapangan RIN, lapangan golf Borobudur, bukit Tidar, dll. Kalau tidak ada berbagai sarana militer itu, bisa dibayangkan betapa kering-kerontangnya kota Magelang.
Persoalan lain terkait tata ruang kota, yang juga membuat wajah kota Magelang terkesan semawrut adalah serbuan Pedagang Kaki Lima (PKL) di setiap sudut kota. Rasanya sekarang ini hampir seluruh jalanan di kota Magelang tak terbebas dari jarahan PKL. Apalagi sejak pasar Rejowinangun terbakar, dan hingga kini tak jelas kapan akan dibangun kembali. Mungkin hanya di lingkungan militer yang relative bersih dari PKL.
Fenomena urban lain, selain PKL, yang cukup mengganggu kebersihan dan keindahan kota Magelang adalah keberadaan media luar ruang (MLR-outdoor advertisement) berbetuk baliho, banner, spanduk, neonsign, dll. Mungkin, karena persoalan tata ruang yang tidak terencana dengan baik, kurangnya koordinasi antara pihak-pihak terkait, atau factor selera rendah masing-masing pihak, maka keberadaan sarana promosi yang ada di lokasi-lokasi strategis itu, terasa kurang sedap dipandang mata.
Memang persoalan tata ruang tak bisa dipisahkan dari perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu kota. Tapi tidak berarti sebuah kota menjadi mata gelap, menghalalkan segala cara, semata-mata demi mengejar perolehan ekonomi atau Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tetap dibutuhkan etika dan estetika untuk membangun sebuah kota. Tentu, untuk keperluan itu semua dibutuhkan sebuah pemerintahan yang memiliki visi atau konsep yang jelas tentang ruang kota, masyarakat, dan pemanfaatannya demi kemaslahatan semua pihak. Yang mampu menjaga dan menciptakan ruang kota yang bermanfaat dan bermartabat.

Dari paparan di atas, kiranya dapat ditarik beberapa persoalan, antara lain:

• Apakah benar telah terjadi degradasi ruang public dan RTH di kota Magelang ?
• Seandainya tidak dapat dikendalikan, sampai kapan ruang kota Magelang mampu menampung beban pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi ?
• Bagaimana memperlakukan PKL secara layak, sebagai bagian dari penataan ruang kota Magelang yang sehat ?
• Bagaimana kiat-kiat yang bisa dilakukan agar mampu menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan ?
• Visi seperti apa yang dibutuhkan untuk menciptakan tata ruang kota Magelang yang bermanfaat dan bermartabat ?
• Dan lain-lain.
Pertanyaan-pertanyaan di atas dan berbagai pertanyaan lain yang berkaitan dengan masalah tata ruang kota Magelang, itu akan dibahas dan dicari jawabnya dalam forum diskusi yang akan kami adakan. Diskusi ini akan mengawali serangkaian diskusi yang akan kami adakan setiap bulan, sebagai bagian dari upaya menginventarisasi, mengangkat, sekaligus mencari jawaban berbagai persoalan yang dihadapi kota dan kabupaten Magelang. Inventarisasi masalah serta usulan pemecahannya akan kami persembahkan sebagai bagian dari dedikasi kami kepada pihak-pihak yang berkepentingan di Magelang.


PELAKSANA PROGRAM.

Pelaksana program adalah www.borobudurlinks.com , sebuah media online (portal) yang memfokuskan pemberitaannya pada dinamika senibudaya dan pariwisata Magelang.

Tim Pekerja:
Mualim M Sukethi (Currator/bronidog@yahoo.com/081586756889)
Sholahuddin Alahmed (Coordinator/esakata08@yahoo.com/081392611137)
Agung Dragon (Traffict/kotatoea_mgl@plaza.com/087832626269)
Ardhi Gunawan (Public Affairs/08562917808)

Alamat Sekretariat:
www.borobudurlinks.com
Jalan Logam No.33 Magersari Magelang 56126
Tlp. 081586756889 / 081392611137.
Email : bronidog@yahoo.com atau esakata08@yahoo.com
Website: www.borobudurlinks.com