Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Showing posts with label art and culture. Show all posts
Showing posts with label art and culture. Show all posts

Thursday, March 4, 2010

Mengupas Karya Goethe di Pesantren API(2-habis)


Melihat Islam dari Puncak Keberpasrahan pada Tuhan
oleh, Sholahuddin al-Ahmed

Jika diamati karya-karyanya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) mengapreasi dan penghargaan karya sastra Arab. Setidaknya ini membuktikan kedekatannya secara pribadi dengan warna dan nilai sastra mahatinggi. Karyanya itu digemakan lagi di Kompleks Pondok Pesantren API Tegalrejo, baru-baru ini.

Dalam beberapa puisi, Goethe terkesan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada bangsa Arab karena cukup mengilhami dan memberi sumbangsih warna sastra tersendiri dalam karya-karyanya.

Hal itu juga tak lepas dari perkenalan Goethe dengan sastra Arab, secara intensif bermula semenjak ia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Leipzig, tahun 1761 atau pertengahan abad XVIII.

Saat Barat menyemarakkan studi-studi antropologis dan ekspedisi-ekspedisi geografis ke daratan Arab. Dalam buku keenam dari Puisi dan Cinta, Goethe mencatat perhatian besarnya pada hasil-hasil ekspedisi itu. Terutama pada Carsten Neibhur yang pernah mengunjungi Mesir, Yaman dan daerah-daerah Arab lainnya (1767).

Dari perjalanan ekspedisi dan riwayat pendidikan Goethe yang serius mengkaji Islam, maka tak diragukan lagi bahwa dia begitu dekat dengan bangsa Timur dan keilmuan Islam. Hingga akhirnya dalam karyanya, dia membuat syair.

Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati

Budayawan Ahmad Tohari yang malam itu turut hadir menganalisa, jika Islam dimaknai berserah diri kepada Tuhan, kita semua hidup dan mati dalam Islam menurutnya karya ini memiliki nilai sufi yang tinggi. Setidaknya Goethe telah mencapai puncak ekstase sufistik membaca Islam dan seluruh ajarannya.

Salah satu terjemahan kutipan puisi Goethe. Kitab Kedai Minuman, di halaman 109 buku Seri Keempat Puisi Jerman mengusik Kang Tohari. Apakah Al Quran abadi? Itu tak kupertanyakan! Apakah Al Quran ciptaan? Itu tak kutahu! Bahwa ia kitab segala kitab, Sebagai muslim wajib kupercaya. Tapi, bahwa anggur sungguh abadi, Tiada lah ku sangsi; Bahwa ia dicipta sebelum malaikat, Mungkin juga bukan cuma puisi. Sang peminum, bagaimanapun juga, Memandang wajahNya lebih segar belia.

Menurut Kang Tohari, anggur suatu keniscayaan yang bisa diukur oleh siapapun, tetapi Alquran tidak bisa dipahami secara saklek tapi butuh penafsiran.

‘’Adik-adik santriawan dan santriwati silakan membaca dengan seksama tetapi jangan lupa mencari pendamping yang bisa menerangkan tentang apa itu abadi,’’kata Kang Tohari seakan mengajak mengkaji lebih dalam syair Goethe dengan pisau analisa keilmuan Islam yang dimiliki santri.

KH Muhammad Yusuf Chudlori yang akrab disapa Gus Yusuf salah satu Pengasuh Pondok Pesantrek API Tegalrejo mengatakan, kebenaran mutlak berujung surga. Tetapi surga bukan hanya milik salah satu pihak.

Goethe yang sastrawan Barat, katanya, telah mendalami sufistik Islam dan meninggalkan ruang material sehingga memberikan penghargaan yang tepat kepada bangsa Timur.

Menurutnya, Berthold yang mengusung puisi-puisi Goethe malam itu sebagai pengalaman baru bagi para santri Tegalrejo. Suasana malam Maulud Nabi itu seakan membawa santri ke arah pemikiran dan pendalaman tentang Islam dari pandangan sastrawan Jerman.

Wednesday, March 3, 2010

Mengupas Karya Goethe di Pesantren API(1)


Mencitrakan Islam untuk Semua Umat

oleh Sholahuddin al-Ahmed

Filsuf dan penyair Jerman Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) boleh dibilang pemikirannya mengispirasi gerakan dialog Barat (Nasrani) dan Timur (Islam). Jembatan antara Barat dan Timur dibangun di atas konstruksi pemikirannya yang menghargai al-Quran sebagai maha kitab dan mengagumi agama Islam yang jauh dari gerakan fundamental.

Benang merah pemikiran itu kembali dipertegas dalam sebuah acara ‘’Dialog Karya-Karya Goethe: Perintis Dialog Islam-Barat’’ di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Penyair asal Jerman Berthold Damshauser datang ke sana membawakan syair-syairnya Goethe. Turut mendampingi di panggung adalah penyair kaliber dunia asal Magelang Dorothea Rosa Herliany dan juga budayawan Sosiawan Leak.

Diantara penonton yang hadir adalah para santriawan dan santriwati API. Santri yang saban hari mengkaji kitab bermazhab Safi’I, Hanafi, Maliki dan Hambali itu tiba-tiba jauh meroket mengkaji pemikiran filsuf Jerman.

Dialog ini memang bukan membahas masalah (bahsul masail)fiqiyah atau tauhid bersumber keempat mazhab di atas. Bukan pula mengkaji mazhab Frankfurt (sebuah nama yang diberikan kepada kelompok filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt Jerman--konsentrasi kajian pemikiran neo-Marxisme dan kritik terhadap budaya).

Meski demikian para santri menikmati syair-syair Goethe yang cenderung sufistik. Melalui syair itu setidaknya mereka menjadi lebih tahu, pandangan orang Barat tentang agama yang mereka anut.

Dialog sastra yang didukung Goethe Institut Jerman, seperti menyederhanakan persoalan filsafat yang mengangkasa menjadi lebih ringan diterima para santri dan para peserta lainnya. Sepertinya mereka sepakat tak ada dikotomi antara Islam dan Barat. Karena Islam untuk semua umat.

Di panggung Berthold membacakan sejumlah puisi karya Goethe berbahasa Jerman sedangkan Rosa dan Leak membacakan puisi Goethe dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Properti puluhan lentera berderet, tatanan indah beberapa lembar daun kelapa (blarak) menghidupkan suasana gelar sastra malam itu. Puisi berjudul ‘’Raja Mambang’ dibaca pertama kali oleh Leak disusul pembacaan puisi itu berbahasa Jerman ‘’Erlkonig’’ oleh Berthold.

Rosa pun menyusul dengan suguhan berturut-turut tiga puisi pendek Goethe bernada cinta, ‘’Dari Gunung Ke Laut’’ (Vom Berge In die See), ‘’Dari Gunung’’ (Vom Berge), dan ‘’Dendang Malam Pengembara’’ (Wanderers Nachtlied).

‘’Ini puisi cinta Goethe, ketika dia jatuh cinta kepada gadis bernama Lili dan ketika dia putus cinta dengan Lili,’’kata Rosa memecah kehening suasana.

Kemudian membacakan lagi puisi berjudul ‘’Mukadimah Diwan’’ (Zum Diwan), nukilan ‘’Kitab Parabel’’ (Buch Der Parabeln), ‘’Sabda Sang Nabi’’ (Der Prophet Spricht), nukilan ‘’Kitab Kedai Minuman’’ (Das Schenkenbuch), ‘’Rindu Dendam’’ (Selige Sehnsucht), dan ‘’Prarasa’’ (Vorschmack).

Sunday, February 28, 2010

ATLANTIS, BOROBUDUR, DAN KEINDONESIAAN KITA.




Oleh: Ma'rufin Sudibyo

Borobudurlinks, 1 Maret 2010. Sebuah seminar telah digelar di Museum Indonesia TMII pada Sabtu, 20 Februari 2010 lalu. Mengupas buku Prof Arysio Santos nan kontroversial. Indonesia sebagai lokasi benua yang hilang: Atlantis. Buku tersebut kini telah dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia.
Meski isu yang diangkat tergolong kontroversial namun daya magnitude-nya masih kalah jauh dibanding panasnya publisitas skandal Bank Century. Namun demikian masih ada 100-an orang yang menghadiri seminar tersebut yang ditingkahi diskusi seru sehingga penutupan seminar sampai mundur 1,5 jam dari rencana awal.
Prof Arysio Santos yang sejatinya adalah pakar fisika nuklir kelahiran Brazil menghabiskan waktu 30-an tahun guna meneliti segenap aspek akan Atlantis. Sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa kontinen dengan penduduk berperadaban tinggi yang mendadak lenyap dari muka Bumi itu sebenarnya berada di Indonesia. Yakni di lokasi yang kini dikenal sebagai Paparan Sunda. Tanah rendah yang kini telah tenggelam di bawah limpahan air laut dan sebelumnya menghubungkan pulau-pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan beserta pulau-pulau kecil di antaranya.
Santos mengajukan argumen bentuk-bentuk candi, sistem pertanian terasering beserta kebudayaan-kebudayaan mirip kebudayaan Indonesia yang ditemukan di luar wilayah negara kepulauan ini. Seperti misalnya di India, Madagaskar, atau bahkan Afrika Selatan adalah bukti eksistensi Atlantis di Paparan Sunda.
Santos pun mengklaim Atlantis tenggelam 11,6 ribu tahun silam. Saat untaian gunung-gunung api di tanah Sumatera dan Jawa seperti Toba dan Krakatau meletus sehingga terjadi pelelehan es kutub yang menyebabkan permukaan air laut global menaik.
Kritik tajam memang perlu dialamatkan ke Prof Santos mengingat Sang Guru Besar ini sejatinya hanya merangkai-rangkai fiksi tentang Atlantis dan mengait-ngaitkannya dengan fakta akan kepulauan Indonesia tanpa berdasarkan sumber data yang valid. Apalagi melakukan analisis data. Demikian pendapat Prof Harry Truman Simanjutak. Arkeolog senior yang juga mantan punggawa Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI).
Dari sudut pandang ilmu kebumian celah lemah hipotesis Atlantis-nya Santos terbuka lebar di banyak tempat. Sebut saja misalnya letusan katastrofik gunung Toba yang ternyata terjadi 74,5 ribu tahun silam atau jauh sebelum masa penenggelaman Atlantis versi Santos.
Pun demikian dengan letusan katastrofik Krakatau yang ternyata baru pertama kali terjadi pada abad ke-4 atau 5 Masehi. Sebagaimana dicatat dalam kita Pustaka Raja Purwa. Atau jauh lebih kemudian dibanding waktu 11,6 ribu tahun.
Letusan Krakatau itu demikian dahsyat. Melebihi letusan 1883 dan menyebabkan gunung api besar yang berdiri di antara Sumatera dan Jawa dengan puncak diduga setinggi 4.000 m runtuh membentuk kaldera raksasa sembari menerbitkan gelombang tsunami pembunuh nan luar biasa. Dahsyatnya letusan ini membuat tanah genting penghubung Sumatera dan Jawa menjadi lenyap.

Namun, letusan-letusan gigantis gunung api tidak pernah dikaitkan dengan terjadinya pelelehan es kutub. Karena, sebaran debu-debu vulkanik di atmosfer justru mereduksi intensitas sinar Matahari yang jatuh ke Bumi sehingga terjadi penurunan suhu global (global cooling) yang pada gilirannya justru membekukan air laut menjadi es. Khususnya di daerah lintang kutub dan lintang tinggi.
Letusan Toba 74,5 ribu tahun silam, misalnya, ditengarai memerosotkan suhu Bumi hingga rata-rata 20 derajat Celcius dari semula. Sekaligus mendorong Bumi dengan kuatnya ke dalam salah satu episode zaman es.
Namun, terlepas dari kontroversi hipotesis dan banyaknya celah lemah dalam argumennya, Prof Santos sejatinya telah memantik perasaan bersama yang telah lama hilang dari bumi Nusantara. Kebanggaan akan keindonesiaan kita. Kebanggaan kita. Sebagai bagian dari lebih 200 juta manusia yang hidup dalam tanah yang terberkati dengan kesuburan, kaya dengan mineral bahan tambang, energi, dan sumber daya terbarukan serta posisi silang yang unik dalam konstelasi dunia. Baik secara geografis, oseanografis, klimatologis, maupun geologis.
Ada banyak aspek tanah Nusantara yang telah terkuak, namun lebih banyak lagi yang masih belum kita ketahui. Dan banyak pula yang telah kita ketahui, yang semula dianggap sudah menjadi pengetahuan baku, ternyata harus direvisi dan dirombak total seiring dengan
informasi baru yang diperoleh dari penyelidikan terbaru.
Ambil contoh misalnya pada Candi Borobudur. Salah satu karya agung nenek moyang kita. Pengetahuan lama yang dipantik oleh van Bemmelen menyebut candi di puncak bukit ini runtuh dan terkubur akibat letusan gigantis Gunung Merapi purba pada 1006 M yang merontokkan sayap barat daya gunung hingga mengambrolkan puncak dan mengalir keras ke barat daya sampai membentur Pegunungan Menoreh hingga akhirnya membentuk perbukitan Gendol yang sekaligus mengubur Danau Borobudur dan candinya sekaligus.
Peristiwa ini dinisbatkan van Bemmelen sebagai titik migrasi kerajaan di Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Van Bemmelen memang beranggapan bahwa kasus runtuhnya salah satu sayap gunung berapi di Indonesia merupakan hal yang umum. Setelah ia demikiant erpesona dengan ambrolnya sayap Papandayan dalam letusan 1772 yang mengubur ribuan jiwa.
Namun, penyelidikan-penyelidikan terbaru menunjukkan peristiwa menggidikkan tersebut sebenarnya tak pernah terjadi: perbukitan Gendol ternyata sudah terbentuk jauh hari sebelum munculnya Merapi purba. Sedimen-sedimen di bekas Danau Borobudur tidak menunjukkan proses sedimentasi massif sekali waktu namun berulang-ulang dalam jangka waktu lama lewat mekanisme lahar dingin dan tiada endapan batuan sangat kaya akan asam di lereng Merapi. Bebatuan yang seharusnya ada jika terjadi letusan besar.
Dan, coba bandingkan dengan kisah Danau Bandung yang kini menjadi daratan bernama Kota Bandung. Van Bemmelen pula yang berasumsi danau raksasa ini surut akibat bobolnya dinding danau sebelah utara di gua Sangiangtikoro. Namun, analisis geomorfologi terkini menunjukkan gua yang menjadi tempat mengalirnya Sungai Citarum di bawah tanah ini sama sekali tidak berperan dalam surutnya danau Bandung. Melainkan akibat proses erosi mudik yang menggerogoti pasiripis (hogback) antara bukit Pasir Kiara dan Puncak Laras. Tepat di belakang Sangiangtikoro.
Erosi mudik yang disebabkan oleh menurunnya permukaan air laut akibat zaman es sehingga Paparan Sunda muncul kembali sebagai daratan luas. Demikian intensif sehingga menggerogoti hogback yang tersusun dari batuan keras hingga mencapai garis pantai danau Bandung. Menciptakan air terjun raksasa dengan outflow jauh lebih besar ketimbang inflow danau Bandung.
Disadari atau tidak minat mengetahui isi bumi Nusantara meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Khususnya pasca bencana gempa megathrust Sumatera - Andaman 2004 yang menggetarkan jiwa siapa pun manusia Indonesia. Arus lalu lintas informasi dan traffic internet didominasi dengan kosakata "Pacific ring of fire" maupun "lempeng tektonik". Namun, peningkatan ini disertai mengapungnya atmosfer energi negatif di tanah Nusantara.
Banyak waktu yang habis untuk mengulas kosa kata-kosa kata tersebut dengan bencana, malapetaka, bangsa yang dihukum, bangsa yang diazab, dan sebagainya yang meningkat intensitasnya seiring terjadinya gempa-gempa bumi berikutnya. Terakhir pada 2009 lalu di pesisir Padang (Sumatera).
Ini membuat kita kian inferior dalam memandang diri dan keindonesiaan kita yang tak terlepas dari kegagalan kita menggapai tujuan berbangsa yang lebih baik dalam rezim orde reformasi. Ditambah dengan skandal Bank Century. Praktik kotor yang mengagetkan kita namun sekaligus menjerat kita ke dalam ketegangan, akumulasi emosi, dan potensi perpecahan yang kian memuncak akhir-akhir ini.
Semua seakan menunjukkan betapa negatifnya Indonesia. Betapa tak ada yang bisa dibanggakan negeri ini. Betapa enegi negatif adalah inheren dalam kehidupan bangsa ini. Seakan tiada lagi yang tersisa.

Kita tentu tak ingin hal itu berlangsung secara terus menerus. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu bangkit dari kesalahannya, dari inferioritasnya, hingga mencapai posisi yang membuatnya memiliki harga diri. Keindonesiaan kita bisa dibangkitkan lagi tidak dengan upacara. Namun, salah satunya dengan lebih mengenali negeri ini. Memahami keunikan-keunikan dan potensinya yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan umum. Mencapai tujuan Indonesia.
Semoga Atlantisnya Prof Santos, meski kotroversial dan lemah, menjadi salah satu pemantik kita untuk lebih mengetahui isi bumi Nusantara sekaligus menumbuhkan kembali keindonesiaan kita (dari Detik.com).

Sunday, February 21, 2010

Melihat Magelang Masa Lalu (3-habis)



Benar!!! Magelang Pusat Seni Rupa Terbesar di Dunia

Pembicara pada diskusi ‘’Visi Tata Ruang Kota Magelang’’ yang paling nyeleneh mungkin Oei Hong Djien dokter yang juga kolektor lukisan kondang. Orang asli Magelang yang biasa disapa OHD itu hidup di tiga generasi, masa penjajahan, revolusi dan era modern sekarang.

Dia mengaku bahagia karena bisa melihat Magelang zaman penjajahan, saat itu menjadi kota persinggahan dan pusat militer. Waktu kecil dia menceritakan pernah tinggal di Jl Tidar, banyak ruang publik yang digunakan bermaian bagik itu di kaki gunung tidar dan di bayeman.

Ruang hijau dan ruang publik banyak yang hilang, bahkan dibanding Kota Kudus menurutnya ketinggalan jauh. Padahal kota kretek itu dahulunya tandus dan gersang.

Dia sepakat ketika sekarang mulai menggeliatkan lagi Magelang sebagai kota pelajar dan kota transit juga Kota lukisan. Tapi ironisnya kondisi sekarang justru menjadi kota penuh ruko, baliho dan pedagang kaki lima. Menurutnya, kepentingan ekonomi tidak sinkron dengan budaya.

Padahal mengembangkan kota ruko pusat perekonomian kemudian ditinggalkan karena kurang menghasilkan. Bagaimana kalau kota hijau dan sejuk dikembangkan, maka akan lebih bergengsi.

Dia mencontohkan, di Austria kota kecil yang penuh dengan ruang hijau dan ruang publik yang indah. Magelang punya hutan dan gunung di dalam kota, potensi itu perlu didukung ruang hijau lain dan taman.

Geliat seni budaya juga mendukung cita-cita itu. Misalnya saja sebulan sebelum pameran atau pergelaran, seniman berlatih performance berbulan-bulan itu sudah menjadi bagian daya tarik wisata. Apakah masyarakatnya sudah siap befikir ke arah situ.

Menurutnya, Deddy Langgeng memiliki pusat seni rupa terlengkap di Indonesia bahkan dunia. Asal dikelola dengan baik dan didukung seluruh elemen masyarakat bisa mengembangkan ke arah pariwisata.

Dia juga mengusulkan bisa saja ada sebuah festival tahunan, menutup daerah pecinan. Berbagai geliat seni budaya selama sepekan di gelar di sana. Kawasan pedestrian yang bisa menarik wisatawan domestik dan luar negeri.’’Saya masih yakin jika dihijaukan dan ditata menjadi kota wisata Magelang akan bisa lebih baik,’’tambahnya.

Apa yang dibicarakan dalam diskusi mungkin saja masih dianggap sebagai sebuah wacana oleh pemerintah atau sebagian masyarakat. Hampir semua peserta yang hadir (para seniman, aktivis, akademisi, budayawan dan mahasiswa, wakil rakyat, pejabat), sepakat bahwa ke depan Magelang haruslah menjadi kota yang menjual keelokan panorama dan potensi geliat seni budayanya. Bukan menjadi hutan advertaising, dan ruko-ruko yang tak produkstif.

Apakah pernah membayangkan di Magelang memiliki aset seni rupa senilai Rp 2 triliun lebih tersimpan di rumah orang-orang kaya Magelang. Setiap tahunnya ada transaksi Rp 100-200 milyar rupiah. Ada banyak geleri seni rupa di kota getuk ini.

Salah satunya, di rumah OHD tersimpan 2000 lebih karya senirupa, 1.500 lebih lukisan, dan 500 lebih patung dan karya tiga dimensi. Karya sebanyak itu tersimpan rapi di rumahnya. Sebagian di plafon yang telah disulap menjadi tempat penyimpanan lukisan. Sebagian lagi dipajang di dua museum yang terletak di belakang rumahnya, yakni Museum Modern Art dan Museum Contemporary Art.(Sholahuddin al-Ahmed)

Melihat Magelang Masa Lalu (2)



Magelang yang Pernah Ditinggalkan Penduduknya
Magelang seperti cawan yang diapit dua sungai besar Elo dan Progo juga dikelilingi tujuh gunung menjadi daya tarik pergulatan peradaban dari zaman ke zaman. Dalam perjalanannya juga seringkali mengalami pasang surut.

Setelah masa kejayaan Hindu-Buddha, Magelang pernah ditinggalkan penduduknya karena letusan Gunung Merapi 1006. Wahyu Utami ST MT Peneliti Sejarah Arsitektur Kota Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menggunakan teori Van Bammelen dalam menganalisasa hilangnya peradaban di Magelang atau Kedu dan sekitarnya.

Dalam teori itu, menurutnya, Letusan Gunung Merapi disertai gempa berkekuatan dahsyat, hujan material vulkanik yang kesemuanya itu membentuk Gunung Gendol dan Pegunungan Menoreh.

Banyaknya korban meninggal menyebabkan wabah penyakit, sebagian orang yang selamat pindah keluar Magelang. Dia juga menggunakan asumsi lain, pindahnya penduduk Magelang, juga diakibatkan tanam paksa dan pembangunan candi pada Mataram kuno.

Pada saat itu ada perdebatan pembangunan Prambanan dan Borobudur, sebagian masyarakatnya terlibat dalam gotong-royong pembangunan dua candi itu. Karena pekerjaan yang tak pernah berhenti itu akhirnya Magelang ditinggalkan penduduknya.

Ada cerita legenda yang cukup menarik untuk membahas munculnya kembali Magelang dalam panggung sejarah, yang diawali dengan adanya usaha Panembahan Senapati untuk menguasai daerah Magelang yang diceritakan dalam Babad Alas Kedu.

Setelah mengalami kemunduran dan masa kejayaan, Magelang khususnya Bukit Tidar telah dikuasai oleh Raja Jin Sepanjang. Panembahan Senapati kemudian menyuruh beberapa tokoh masyarakat untuk membantu mengusir Raja Jin Sepanjang.

Muncullah kemudian Kyai Keramat yang membantu namun akhirnya tewas di daerah sebelah utara (keramat atau di Desa Kramat, sekarang). Kemudian Raja Jin Sepanjang lari ke arah Selatan dan dikejar oleh Nyai Bogem (tewas akhirnya muncul daerah Bogeman).

Patih Mertoyudo (tewas akhirnya muncul daerah Mertoyodan-salah satu Kecamatan di Kabupaten Magelang) dan Raden Krincing (tewas akhirnya muncul daerah Krincing, daerah di Kecamatan Secang Kabupaten Magelang). Menurut Wahyu, selain itu juga muncul nama-nama daerah sebagai basis pertempuran antara lain Bodongan, Plikon dan Geger.

Pembenahan dan pembangunan kota Magelang, lanjut dia, secara umum mengubah wajah Kota Magelang. Dahulu Belanda merias wajah kota dengan bangunan elok dan panorama gunung dan sawah yang indah menghampar.

Setidaknya, pembangunan itu selaras dengan Magelang yang memiliki potensi panorama alam yang kuat. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, pembangunan tak lagi mengindahkan masterplan peninggalan Belanda yang menitik beratkan pada perpaduan alam dan pembangunan.

‘’Pembangunan yang tak mengindahkan ruang hijau dan menggusur bangunan-bangunan kuno itu semakin gencar mulai tahun 2000. Sebelumnya saya meneliti di sini kondisinya masih bagus, meski sudah ada bangunan-banguan modern di mana-mana,’’katanya.

Dikatakannya, jika Magelang akan mengangkat keindahannya sebagai pontensi wisata maka pembangunan kotanya harus tetap konsisten pada pembangunan yang berbasis lingkungan. Kota Magelang bisa diangkat mendampingi kawasan wisata Borobudur, dengan potensi alam ruang hijau dan gunung tidarnya.

Sependapat dengan hal itu, pembicara lain dalam diskusi ruang publik Edy Soetrisno, Pengembang yang juga Anggota DPRD Kota Magelang, mengatakan jika Magelang ingin maju sudah selayaknya menghargai sejarah. Perjalanan dari abad ke abad Magelang kaya akan nilai sejarah yang ditinggalkan pendahulu.

‘’Ke depan harus bisa mengantisipasi pembangunan yang tak mengindahkan nilai-nilai sejarah itu. Harus berani melakukan gerakan moral, menyelamatkan warisan budaya itu,’’tambah Eddy.(Sholahuddin al-Ahmed)

Melihat Magelang Masa Lalu (1)



Keunikan Magelang dengan Tujuh Gunungnya

Melihat perjalanan massa lalu Magelang sungguh menarik, perjalanan waktu dari Hindu-Buddha kemudian pendudukan Inggris VOC dan Belanda hingga sekarang. Semua itu dikupas dalam diskusi borobudurlinks.com ‘’Visi Tata Ruang Kota Magelang’’, berikut laporan Sholahuddin al-Ahmed.

Ada yang menarik dari pemaparan Wahyu Utami ST MT (Peneliti Sejarah Arsitektur Kota Universitas Gajah Mada), salah satunya mengungkapkan adanya bukti sejarah bahwa Magelang atau Kedu sudah memulai peradabannya pada 78 M.

Berdasarkan sumber cerita rakyat diceritakan tentang datangnya serombongan orang Rum yang dipimpin Raja Pendeta Ngusmanaji mencoba masuk ke wilayah Jawa khususnya Kedu akan tetapi gagal karena terserang penyakit.

Rombongan kedua yang disengaja tanpa orang Rum yaitu dengan mendatangkan orang-orang Keling, Seiloh dan Siam, mencoba membuka lahan kembali yang dimulai ekspedisinya tahun 83 M dan pada tahun ke lima berhasil menguasai keadaan pada tahun 88 M. Kemudian mereka menancapkan tongkat tumbal di 5 lokasi di Jawa, salah satunya di Bukit Tidar oleh Syeh Subakir.

Kemudian dia meloncat menceritakan Magelang pada masa Mataram Kuno, bermula dari cerita Raja Sima yang sangat terkenal dari Kalingga melarikan diri karena gempuran dari kerajaan yang ada di Jawa Barat dan akhirnya mendapat tempat di Lereng Gunung Merapi (Prasasti Canggal), maka dimulailah babak baru berkembangnya kawasan Magelang sekarang ini.

Mataram Kuno di Magelang dimulai Raja Sanjaya yang membuat prasasti Canggal tahun 732 M, di Gunung Wukir, Lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang kemudian menjadi Raja Mataram Kuno yang pertama.

Keberadaan prasasti itu, setidaknya menjelaskan Magelang dengan latar belakang Bukit Tidar sudah ada jauh sebelum berdirinya kerajaan baru yaitu Kerajaan Medang. Hal itu juga dikuatkan Prasasti Tuk Mas (Kabupaten Magelang) 500 M yang bercerita tentang adanya sumber air yang bersih yang disamakan dengan Sungai Gangga.

Zaman Mataram
Pada masa Kerajaan Mataram Hindhu, Magelang diperkirakan mulai dikenal lebih luas pada masa pemerintahan Rake Watukara Dyah Balitung (898-908 M) dengan memerdekakan beberapa daerah yang ada di Magelang mulai tahun 905 M yang tertuang dalam prasati Poh (905M).

Pada masa pemerintahan Raja Balitung istana Mataram Hindhu berada di daerah Medang I Poh Pitu (Kedu). Daerah yang dijadikan daerah perdikan adalah daerah Mantyasih dan Poh sebagai daerah untuk melakukan persembahan dengan dibangun Sima.

Peneliti yang juga kelahiran Magelang, itu mengurai tentang sesuatu dibalik Prasasti Mantyasih. Antara lain mengungkapkan fakta bahwa Kota Magelang mengawali sejarah sebagai desa perdikan ‘’Mantyasih’’ yang berarti beriman dalam cinta kasih dan di tempat itu terdapat lumpang batu yang diyakini masyarakat sebagai tempat upacara penetapan Sima atau perdikan.

Selain Prasasti Mantyasih juga sebelumnya telah ada Prasasti Poh yang terletak di Kampung Dumpoh (sekarang). Menurutnya, Magelang menjadi daya tarik karena letak geografisnya. Dikelilingi tujuh gunung antara lain, Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo dan Sumbing. Di aliri dua sungai besar, yakni Elo dan Progo.

Di tanah cekungan ini menurutnya, sejak dahulu merupakan hamparan tanah dipenuhi sawah dan hutan. Pada zaman dahulu itu menjadi magnet orang-orang untuk datang dan bercocok tanam.

Pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC Magelang dijadikan markasnya. Pada zaman penjajahan Belanda, juga dijadikan pusat pemerintahan dan militer.

‘’Pada masa penjajahan orang-orang Belanda suka dengan Magelang membuat vila karena panorama indah pegunungan dan aliran sungai yang menjadi sumber penghidupan,’’katanya.

Dikatakannya, daya tarik Magelang dengan tujuh gunung dan dua sungai besar itu, kini justru tenggelam. Seiring dengan pembangunan gedung bertingkat dan alih fungsi persawahan dan ruang hijauh menjadi bangunan atau perumahan.

MEMBACA GOETHE DI TEGALREJO MAGELANG.


Oleh: Dorothea Rosa Herliany.

Borobudurlinks, 21 Februari 2010.
Pada bulan Februari 2010, Jawa tengah kedatangan tamu, Berthold Damshäuser, seorang dosen di universitas Bonn, pemimpin redaksi “Orientierungen” (Jurnal tentang Budaya-budaya Asia), dan penerjemah sastra, khususnya puisi. Ini adalah kedatangannya yang ke ke sekian sejak dia memprakarsai penerbitan “Seri Puisi Jerman” ke dalam bahasa Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini.
Ide penerbitan buku itu sendiri muncul dari adanya kesadaran bahwa segala usaha penyebaran karya sastra melalui terjemahan adalah sesuatu yang sangat berharga dan penuh makna, selain mempererat hubungan budaya antarbangsa. Sementara itu, mesti diakui hubungan Indonesia-Jerman belumlah maksimal. Itulah yang membuat Berthold merasa prihatin dan ide penerjemahan puisi-puisi itu terus-menerus menganggu pikirannya sejak tahun 90-an dan ingin bisa diwujudkan.
Akhirnya dengan kerjasama 3 lembaga Jerman yakni Kedubes Jerman dan Goethe-Institut (keduanya di Jakarta), dan Departemen Luar Negeri (di Berlin), gagasan itu terwujud dan sejak tahun 2002 publik pembaca Indonesia telah bisa menikmati dalam bahasa Indonesia puisi-puisi karya para pujangga besarJerman, seperti Rainer Maria Rilke, Bertolt Brecht, Paul Celan, Johann Wolfgang von Goethe dan Hans Magnus Enzensberger. Bersamaan dengan penerbitan buku-buku tersebut, Berthold yang juga seorang deklamator itu, atas bantuan Goethe Institut, melakukan tour pembacaan puisi ke berbagai kota di Indonesia. Tahun 2008: di UII-Jogya, UI-Jakarta, GoetheHaus-Jakarta, Univ Muhammadiyah-Malang, Goethe Institut-Bandung; tahun 2009: di Salihara-Jakarta, UAD-Jogya, KOmunitas Sahaja-Denpasar, Goethe Institut-Bandung, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa-Banten,Goethe-Institut-Jakarta. Dan tahun ini di Jateng, yakni mulai 22-25 Februari 2010. di Kudus (Universitas Sunan Muria), Semarang (universitas Diponegoro), Solo (taman Budaya Surakarta), dan Magelang (Pondok Pesantren Tegalrejo).

***
Mengapa acara di Magelang (25 Februari 2010 jam 20.00) dilangsungkan di Pondok Pesantren Tegalrejo? Hal ini erat kaitannya dengan puisi-puisi yang akan dibacakan Berthold dalam lawatannya ke Jateng kali ini dimana dia akan membaca puisi-puisi karya Johann Wolfgang von Goethe yang mengangkat pandangan Timur Barat yang hangat.

Yang kenal diri juga sang lain
Di sini pun kan menyadari:
Timur dan Barat berpilin
Tak terceraikan lagi.


Sajak ini sangat terkenal, ditulis oleh Goethe pada tahun 1826. Baris-baris puisi itu menunjukkan bahwa Goethe sangat sadar akan pentingnya dialog antarbudaya. Dan Goethe sendiri, melalui karya dan tindakannya, telah menjadikan dirinya jembatan antara Barat dan Timur. Terutama hubungan Goethe dengan wawasan Islam merupakan sebuah fenomena menakjubkan dalam kehidupannya. Sejak muda ia menaruh minat terhadap Islam, dan rasa hormat dan kagum terhadap agama itu dapat disaksikan dalam tulisannya, terutama dalam kumpulan puisi Diwan Barat-Timur yang dianggap salah satu dari mahakarya Goethe.
Sebagai pembangun jembatan antara Barat dan Timur, Goethe menduduki posisi istimewa di antara semua tokoh budaya Eropa. Dan, itu sebenarnya sangat menguntungkan bagi politik budaya luar negeri Jerman di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Goethe ternyata seorang perintis dialog antara Barat dan Islam. Goethe telah memberi contoh kepada orang Barat, juga kepada orang Timur, mengenai cara terbaik dalam berurusan dengan agama dan budaya lain. Yakni dengan terbuka dan dengan kesediaan untuk memperkaya diri. Bagi Goethe, dikotomi antara Barat dan Timur sebenarnya tidak ada. Itu disampaikannya melalui puisi terkenalnya dalam mukadimah untuk Diwan Barat-Timur yang bunyinya sebagaimana saya kutipkan di atas. Namun, dengan menulis Diwan Barat-Timur tidaklah berarti Goethe menjadi pujangga Timur atau tiba-tiba kerkiblat kepada dunia timur belaka. Segala pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam, dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe. Ia telah mencipta sesuai dengan ucapannya dalam „Mukadimah Diwan“ yang lebih lengkapnya berbunyi seperti ini:

Yang kenal diri juga sang lain
Di sini pun kan menyadari:
Timur dan Barat berpilin
Tak terceraikan lagi
Arif berayun penuh manfaat
Di antara dua dunia;
Melanglang timur dan barat
Mencapai hikmah mulia!


Dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu, Berthold Damshäuser menceritakan pengalamannya saat melakukan acara pembacaan puisi Goethe di beberapa tempat lain di Indonesia, “Saya sampaikan kepada tamu undangan yang hadir bahwa Goethe merasa diri lebih dekat dengan Islam daripada dengan agama Nasrani, suatu hal yang dapat dibuktikan berdasarkan tulisan Goethe sendiri. Mendengar itu peserta biasanya cukup kaget, tapi juga terpesona. Lebih lagi, bila dapat dibuktikan bahwa Goethe betul-betul mempelajari agama Islam, termasuk Al Quran, juga puisi sufi, dan menjadikannya ilham dalam berkarya. Reaksi terpesona dari khalayak merupakan dasar yang baik untuk menyampaikan juga bahwa Goethe menolak segala bentuk fundamentalisme agama, dan bahwa toleransi dalam keagamaan tidak terbatas pada agama-agama Abrahamitis saja.” ungkapnya.
Wawasan Islam cukup kuat dalam karya Goethe yang bertajuk Diwan Barat-Timur, Di sana tampak sekali simpati Goethe terhadap agama ini. Dalam puisi Ich sah, mit Staunen und Vergnügen („Aku memandang, takjub dan girang“) ia sebutkan Al Quran sebagai Khasanah suci sang ilmu, dan dalam Kitab Hikmah terdapat kalimat yang terkenal, yakni:

Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati.


***
Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) merupakan pujangga Jerman terbesar, juga tokoh paling gemilang dalam sejarah sastra dunia. Menurut Friedrich Nietzsche (1886) yang dijuluki sang jenius yang juga penyair dan filsuf Jerman besar generasi berikutnya, „Goethe bukan saja tokoh maha besar, ia adalah sebuah kebudayaan.“ Di negerinya sendiri, Goethe dipandang sebagai “pahlawan budaya.” Ribuan buku tentang Goethe telah ditulis para penulis-penulis dari berbagai negara di dunia, mulai dari analisis dan kajian atas karyanya, hingga biografi-biografi yang membicarakan tiap detil dari kehidupannya. Bahkan, juga telah ditulis "Kamus Goethe". Karenanya, tidaklah mengherankan jika lembaga kebudayan Jerman yang bertugas memperkenalkan bahasa dan budaya Jerman di berbagai penjuru dunia dinamakan atas namanya: Goethe-Institut.
Penyair ini adalah anak sulung dari delapan bersaudara, tetapi hanya ia dan adik perempuannya yang bertahan hidup. Goethe berasal dari keluarga burjuis beragama Protestan yang kaya, dan dibesarkan dalam keadaan makmur dan tenteram. Ayahnya, Johann Caspar Goethe, seorang ahli hukum, pada umur 32 tahun memperoleh warisan kekayaan sehingga tak lagi perlu bekerja dan dapat menikmati kehidupannya sebagai seorang cendekiawan dan pencinta kesenian yang juga tertarik pada masalah ilmu alam. Ia mengumpulkan hasil kesenian, artefak dan naturalia, serta memiliki perpustakaan dengan dua ribu jilid buku. Dalam suasana intelektual yang subur demikianlah Johann Wolfgang dibesarkan. Bahkan ia didukung oleh ayahnya yang turun tangan sendiri menjadi guru bagi anaknya, di samping mempekerjakan berbagai guru privat, sehingga Johann Wolfgang tak pernah pergi ke sekolah umum. Dari situasi ini, dapat dibayangkan betapa luas dan intensif pendidikan Goethe muda. Antara lain, ia mempelajari berbagai bahasa (Latin, Yunani, Perancis, Inggris, dan Ibrani). Ia juga sejak muda diberi bacaan karya sastra dan karya filsafat, selain dilatih menari dan menunggang kuda.
Sejak awal Goethe tertarik pada sastra dan sudah mulai menulis puisi sejak ia berumur delapan tahun. Ia pun sangat tertarik kepada dunia teater, dan ayahnya mendukung minat anaknya dengan secara teratur mengadakan pertunjukan teater boneka di rumahnya. Dibekali pendidikan awal yang luar biasa itu, Goethe pada tahun 1765 meninggalkan Frankfurt dan atas perintah ayahnya mulai berkuliah di Jurusan Hukum Universitas Leipzig. Namun, Goethe yang umurnya ketika itu baru 16 tahun, kurang tertarik pada ilmu hukum dan agak malas memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa jurusan hukum. Ia lebih suka mengikuti kuliah di bidang sastra. Selain itu, ia belajar melukis dan sibuk menulis karya sastra.
Sejak masa kanak hingga memasuki mas tuanya, telah lahir ribuan sajak Goethe. Mengenai puisi-puisinya, Goethe pernah mengatakan bahwa itu adalah merupakan "pecahan sebuah keyakinan yang menyeluruh".
Selain puisi-puisi karya Goethe, dalam tour puisinya ke Jawa Tengah yang didukung Goethe Institut Jakarta, Berthold juga akan memperkenalkan beberapa puisi karya Friedrich Nietzsche, filosof dan penyair Jerman yang juga terkemuka. Puisi Nietzsche telah selesai diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono. Rencananya pertengahan tahun ini buku itu akan diterbitkan dan akhir bulan September akan diadakan acara pembacaannya di kota-kota lain di Indonesia. (Dorothea Rosa Herliany, penyair Magelang -dari berbagai sumber)